Rumah Sakit Fatmawati Jakarta

Selayang Pandang
 


....


Selayang Pandang
 
Rumah Sakit Fatmawati pada mulanya bernama Rumah Sakit Ibu Soekarno, terletak di Kelurahan Cilandak Barat, Kecamatan Cilandak, Wilayah Jakarta Selatan, Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Rumah Sakit Ibu Soekarno dibangun diatas tanah seluas 44 Ha, semula direncanakan untuk dijadikan sebuah Sanatorium Penyakit Paru-paru bagi anak-anak karena saat itu lokasinya di luar Jakarta yang berhawa segar.
Rumah Sakit Soekarno dibangun oleh sebuah yayasan yang bernama "Yayasan Ibu Soekarno" yang pada saat berdirinya diketuai oleh Bapak Raden Pandji Soeroso, dan dibangun oleh PT Ujung Kulon dengan Direktur Utamanya Bapak Soehanda.
Pada awalnya bangunan Rumah Sakit Ibu Soekarno terdiri dari bangunan induk, aula, dapur, tempat cuci asrama perawat yang terdiri dari tiga flat, tiap-tiap flat terdiri dari 20 unit rumah serta satu bangunan untuk Pendidikan Guru Bidan yang dikelola oleh BKIA Departemen Kesehatan. Sampai dengan tahun 1959 kondisi bangunan masih belum berubah, masih banyak tanah kosong yang belum dimanfaatkan.
Rumah Sakit Ibu Soekarno Memulai Langkahnya
Pada akhir tahun 1958 Rumah Sakit ini diserahkan kepada Pemerintah dalam hal ini Departemen kesehatan RI yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Prof. Dr. Satrio.
Menteri Kesehatan Prof. Dr. Satrio mendatangkan beberapa tenaga TNI-AD dari Lembaga Angkatan Darat (LAKAD) dibawah pimpinan Kol Dr. Soejoto, yang menempati sebagian unit perumahan di flat III untuk menjaga keamanan komplek di rumah sakit tersebut, kemudian tenaga-tenaga dari BKIAA Separtemen Kesehatan yang menempati sebagian dari unit-unit perumahan di flat II, dan tenaga dari Rumah Sakit Umum Pusat dan keluarga dari RSPAD yang menempati satu unit flat II. Untuk tenaga-tenaga perawat putra dan putri didatangkan dari Bandung yang dipimpin oleh Zr. Suprapti dan Bapak Suwardi. Sebagai penanggung jawab Direktur Rumah Sakit Ibu Soekarno adalah Bapak Kol. Dr. Soejoto (almarhum). Selain itu juga didatangkan tenaga ahli gizi saudara A. Soeparman, Asisten Apoteker saudara Wesley Siahaan, dan ahli Rontgen saudara M. Tarigan.
Setelah Rumah Sakit mulai berjalan datanglah tenaga-tenaga para medis dari Surabaya, Tangerang Jawa barat dan Solo. bagian fisioterapi ini dipimpin Ibu Wiroreno. Dalam pelaksanaan operasional Rumah Sakit dibantu tenaga Tata Usaha dari RSCM, yaitu M. Soemarsono (alm) dan Zaenudin (alm) dengan Kepala Administrasi Bapak mayor Soeharlan dan AK Affandi sebagai wakilnya.
Rumah Sakit Ibu Soekarno Memulai Tugasnya
Pada awal tahun 1959, mulailah didatangkan beberapa pasien dari RSPAD dan dari RSCM. Pasien-pasien itu kebanyakan penderita tulang, karena Bapak Kolonel Dr. Soejoto adalah seorang ahli bedah tulang. Beberapa waktu kemudian datang Dr. Thayib Salim dari Yogyakarta dan Dr. Soenarno (alm) yang baru datang belajar kedokteran di Jerman. Rumah Sakit tersebut mulai tugasnya dengan menangani pembedahan-pembedahan tulang sehingga Rumah Sakit Ibu Soekarno dikenal dengan nama Rumah Sakit Orthopaedi.
Pada saat yang bersamaan, kapal rumah sakit dari Amerika yang bernama "HOPE" (Helath Opportunity for people Everywhere) yang sedang berlabuh di Tanjung Priok melakukan pembedahan-pembedahan tulang. Setelah selesai misinya Kapal Rumah Sakit "HOPE" ini menyerahkan semua barang-barang dari kapal itu kepada Rumah Sakit Ibu Soekarno, terutama peralatan dan perlengkapan medis, seperti obat-obatan, pakaian pasien, selimut, alat-alat instrumen, buku-buku kedokteran. Kemudian tersebarlah berita bahwa Rumah Sakit Ibu Soekarno kaya obat-obatan modern dan vitamin-vitamin ampuh. Salah satu diantara obat yang berasal dari kapal Rumah Sakit "HOPE" dari Amerika itu adalah kapsul "Gevral".
Beberapa kemudian datanglah dokter-dokter bedah tulang dari Amerika yaitu Dr. Lecoq dan Dr. Jennings dan dua orang perawat Amerika yang cantik-cantik. Mereka dapat bekerjasama baik sekali dengan tenaga-tenaga Indonesia. Pada saat itu saliran listrik PLN belum masuk ke Rumah Sakit Ibu Soekarno, sehingga dipergunakan Diesel yang sering rusak.
Selain dokter-dokter dari Amerika itu datang juga dokter-dokter yaitu Dr. R. Soehasim dan Dr. Aris Santoso dari Jepang dan beberapa dokter lain. Selanjutnya Rumah Sakit Ibu Soekarno mulai menerima pasien-pasien penyakit lain untuk dirawat.
Rumah Sakit Fatmawati Sebagai Rumah Sakit Pendidikan
RS Fatmawati dalam perannya sebagai rumah sakit pendidikan mengadakan kerjasama dengan berbagai lembaga pendidikan. Lembaga-lembaga Pendidikan yang mengadakan kerjasama dengan RS Fatmawati adalah:
1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sebagai mitra penyelenggara program pendidikan spesialis dalam bidang bedah umum, bedah urologi, bedah plastik, bedah orthopaedi dan kebidanan &kandungan.
2. Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dalam penyelenggaraan kepaniteraan klinik mashasiswa kedokteran untuk pendidikan profesi kedokteran.
3. Program Pasca Sarjana manajemen Rumah Sakit KARS-UI (Kajian Administrasi Rumah Sakit UI), MMR-UGM (Magister Manajemen Rumah Sakit UGM).
4. Akademi Perawat JUM
5. Akademi Perawat Andalusia
6. Akademi Perawat Anestesi Depkes.
7. Akademi Gizi Depkes.
8. Akademi Teknologi Rontgen Depkes.
9. Fakultas Farmasi ITB
10. Fakultas Farmasi Universitas Pancasila
11. D III Farmasi Depkes.
12. D III Analis Depkes.
13. D III Rekam Medis Universitas I.E.U.
14. D III FKM-UI
15. SPK Fatmawati
16. SPK YPDR
17. S1 Ilmu Keperawatan UI dan isntitusi-institusi pendidikan lainnya
18. Akademi Keperawatan Fatmawati
RS Fatmawati Sebagai RS Unit Swadana
Sejak tanggal 28 Desember 1994 RS Fatmawati diberi kewenangan untuk menggunakan pendapatan fungsionalnya dalam membiayai kebutuhan operasional, pemeliharaan serta pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan mutu pelayanannya. Pengelolaan RS Fatmawati dilakukan secara sosial ekonomi dengan menjalankan manajemennya sesuai dengan kaidah-kaidah ejonomi namun tetap memperhatikan fungsi sosialnya secara profesional, efisien dan produktif melalui pengembangan dan peningkatan sumber daya manusianya.
Perubahan Kebijakan Unit Swadana menjadi Pengguna PNBP
Sejak bulan Juli 1997 dengan keluarnya UU No. 20 tahun 1997 rumah sakit mengalami perubahan kebijakan dari unit swadana menjadi pengguna PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Semua pendapatan bukan pajak harus disetor langsung ke kas negara. Maka penggunaan dana untuk kegiatan rumah sakit harus melalui prosedur birokrasi yang cukup panjang, sehingga memperlambat pelayanan rumah sakit dan mengurangi daya saing.
Sistem Informasi Rumah Sakit
Sejak tahun 1991 RS Fatmawati mulai menggunakan komputer untuk mengolah data keuangan, logistik, IPSRS, kepegawaian dan rekam medis secara "stand alone". Pada tahun 1994 mulai dikembangkan sistem LAN (Local Area Network) untuk rawat inap atas bantuan USAID. Penggunaan sistem LAN ini masih terbatas dan diprioritaskan untuk blling rawat inap, akuntansi, registrasi pasien masuk rawat inap dan rekam medis. Selanjutnya dengan menggunakan dana swadana sistem komputerisasi dikembangkan lagi dengan menambah workstation di beberapa tempat. Untuk mengantisipasi pengembangan sistem ini, telah dipasang back-bonefiber optic dan ATM sistem yang menghubungkan seluruh unit kerja. Saat ini sedang dilakukan penggantian software dan Foxpro menjadi PSY Base yang menggunakan Client Server dengan tujuan agar sistem informasi dapat dengan mudah, cepat, tepat dan akurat digunakan oleh yang membutuhkan.
Sistem Administrasi Keuangan
Sistem ini telah disempurnakan sehingga dapat digunakan untuk menilai efisiensi dan produktivitas dari aspek keuangan dan perhitungan cost recovery serta unit cost melalui analisa biaya. Sistem akuntansi pada akhir tahun 1993/1994 telah dilaksanakan dengan cara paralel, cost basis dan acrual basis, sehingga laporan akuntansi keuangan seperti balance sheet dan income statement telah dapat dibuat.
Dikutip dari buku 40 tahun RS Fatmawati
RS Fatmawati Tahun 2010

Jl. RS Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp. (021) 7501524

 
Rumah Sakit Fatmawati Jakarta